Rabu, 06 Agustus 2025

Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah

Dr. Abdul Munir || Penyuluh Agama Islam KUA Sape

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

 

Dalam kehidupan ini, tidak sedikit manusia yang terjatuh dalam berbagai kesalahan dan dosa. Ada yang terjerumus dalam maksiat bertahun-tahun, bahkan merasa dirinya sudah terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Mereka merasa pintu taubat telah tertutup, dan jalan kembali kepada kebaikan sudah tak mungkin lagi. Namun, Allah dengan kasih sayang-Nya memberikan sebuah ayat yang menjadi pelipur lara bagi hamba-hamba-Nya yang sedang terpuruk: QS. Az-Zumar ayat 53.


Ayat ini diawali dengan kata "Katakanlah" (قُلْ), sebagai perintah langsung kepada Nabi Muhammad untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada umat manusia. Ayat ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang bertakwa, tetapi kepada “hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri”, yakni orang-orang yang sudah banyak melakukan dosa, bahkan sampai melampaui batas.

Allah tidak menyebut mereka dengan “orang-orang durhaka” saja, tapi menyebut mereka dengan penuh kasih: “hamba-hamba-Ku”. Ini menunjukkan bahwa seburuk apa pun seorang hamba, ia tetap milik Allah, dan pintu kembali kepada-Nya selalu terbuka.


Allah berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”. Dalam bahasa Arab, larangan ini menggunakan kata لَا تَقْنَطُوا, yang bermakna larangan keras untuk menyerah atau kehilangan harapan. Dalam Islam, berputus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar, karena itu menunjukkan ketidakyakinan terhadap sifat pengampunan dan kasih sayang Allah.


Allah menegaskan: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”. Artinya, dosa apa pun, sekecil atau sebesar apa pun—baik syirik, zina, riba, pembunuhan, atau apa saja—selama pelakunya bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuninya.

Dua nama Allah yang agung ditutupkan dalam ayat ini: Al-Ghafūr (Yang Maha Pengampun) dan Ar-Rahīm (Yang Maha Penyayang). Ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah bukan hanya sekadar penghapusan dosa, tapi disertai kasih sayang dan kelembutan kepada hamba-Nya.

Pelajaran dari Ayat Ini

1.      Pintu taubat selalu terbuka hingga ajal menjemput. Tidak ada istilah "terlambat" untuk bertaubat selama nyawa masih di badan.

2.      Sebesar apa pun dosa, rahmat Allah lebih besar. Jangan pernah merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.

3.      Jangan menghakimi orang yang berdosa. Bisa jadi mereka lebih dekat kepada Allah setelah bertaubat daripada orang yang merasa dirinya suci.

4.      Taubat yang tulus disertai penyesalan, berhenti dari dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya, adalah syarat diterimanya pengampunan dari Allah.

Ayat ini adalah sumber harapan bagi siapa saja yang merasa dirinya jauh dari Allah. Jangan biarkan dosa menghalangimu dari rahmat-Nya. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan, karena Allah telah berjanji: Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A’raf: 156)

Mari kita kembali kepada Allah. Jangan tunggu nanti. Mungkin sekarang adalah kesempatan terakhir kita.

 

0 comments: