Dr. Abdul Munir || Penyuluh Agama Islam KUA Sape
“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya
Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.” (QS.
Az-Zumar: 53)
Dalam kehidupan ini, tidak sedikit manusia yang terjatuh dalam berbagai
kesalahan dan dosa. Ada yang terjerumus dalam maksiat bertahun-tahun, bahkan
merasa dirinya sudah terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Mereka merasa
pintu taubat telah tertutup, dan jalan kembali kepada kebaikan sudah tak
mungkin lagi. Namun, Allah dengan kasih sayang-Nya memberikan sebuah ayat yang
menjadi pelipur lara bagi hamba-hamba-Nya yang sedang terpuruk: QS. Az-Zumar ayat 53.
Ayat ini diawali dengan kata "Katakanlah" (قُلْ), sebagai perintah langsung
kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk menyampaikan kabar gembira ini kepada umat manusia. Ayat
ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang bertakwa, tetapi kepada “hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap
diri mereka sendiri”, yakni orang-orang yang sudah banyak melakukan
dosa, bahkan sampai melampaui batas.
Allah tidak menyebut mereka dengan
“orang-orang durhaka” saja, tapi menyebut mereka dengan penuh kasih: “hamba-hamba-Ku”. Ini menunjukkan bahwa
seburuk apa pun seorang hamba, ia tetap milik Allah, dan pintu kembali
kepada-Nya selalu terbuka.
Allah berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah”. Dalam
bahasa Arab, larangan ini menggunakan kata لَا تَقْنَطُوا, yang bermakna larangan keras untuk
menyerah atau kehilangan harapan. Dalam Islam, berputus asa dari rahmat Allah adalah dosa besar, karena
itu menunjukkan ketidakyakinan terhadap sifat pengampunan dan kasih sayang
Allah.
Allah menegaskan: “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”.
Artinya, dosa apa pun, sekecil atau sebesar apa pun—baik syirik, zina, riba,
pembunuhan, atau apa saja—selama pelakunya bertaubat dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mengampuninya.
Dua nama Allah yang agung ditutupkan dalam
ayat ini: Al-Ghafūr (Yang Maha
Pengampun) dan Ar-Rahīm (Yang
Maha Penyayang). Ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah bukan hanya sekadar
penghapusan dosa, tapi disertai kasih sayang dan kelembutan kepada hamba-Nya.
Pelajaran
dari Ayat Ini
1.
Pintu taubat selalu terbuka hingga ajal menjemput. Tidak
ada istilah "terlambat" untuk bertaubat selama nyawa masih di badan.
2.
Sebesar apa pun dosa, rahmat Allah lebih besar. Jangan pernah
merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah.
3.
Jangan menghakimi orang yang berdosa. Bisa jadi mereka
lebih dekat kepada Allah setelah bertaubat daripada orang yang merasa dirinya
suci.
4.
Taubat yang tulus disertai penyesalan, berhenti dari
dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya, adalah syarat diterimanya
pengampunan dari Allah.
Ayat ini adalah sumber harapan bagi siapa saja yang merasa dirinya jauh
dari Allah. Jangan biarkan dosa menghalangimu dari rahmat-Nya. Datanglah
kepada-Nya dengan hati yang penuh penyesalan, karena Allah telah berjanji: Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ
شَيْءٍ
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A’raf: 156)
Mari kita kembali kepada Allah. Jangan tunggu nanti. Mungkin sekarang adalah kesempatan terakhir kita.
0 comments:
Posting Komentar