![]() |
Abdul Haris, S.H || Kepala KUA Sape/Penghulu |
Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar ikatan lahiriah antara dua insan, melainkan sebuah ibadah, misi suci, dan sarana untuk meraih ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمِنْ آيَاتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم
مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ
وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan
di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan
untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang."
(QS. Ar-Rum: 21)
Ayat
ini menegaskan bahwa cinta adalah fondasi penting dalam membangun keluarga yang
harmonis. Namun, cinta dalam rumah tangga bukan sesuatu yang hadir dengan
sendirinya. Ia harus dipelihara, dihidupkan, dan diperjuangkan dengan seni dan
kebijaksanaan.
1. Niat Lillah dan Tujuan yang Mulia
Segala
sesuatu yang diniatkan karena Allah akan diberkahi. Maka membangun rumah tangga
dengan niat untuk beribadah, menyempurnakan separuh agama, serta mendidik
generasi shalih menjadi landasan kokoh dalam menciptakan keluarga yang
diridhai.
إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدِ
اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ
فِي النِّصْفِ البَاقِي
"Barang
siapa menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya." (HR. Al-Baihaqi)
2. Komunikasi Penuh Cinta
Komunikasi
yang sehat adalah jembatan penghubung hati. Rasulullah SAW memberi teladan
bagaimana berbicara lembut dan romantis kepada istri-istrinya. Beliau memanggil
‘Aisyah dengan sebutan manis seperti “Humaira” (yang kemerah-merahan pipinya).
Kata-kata cinta, pujian, dan penghargaan yang tulus dapat menjadi obat dari
berbagai masalah dalam rumah tangga.
3. Saling Memahami dan Menghargai
Perbedaan
Tidak
ada pasangan yang sempurna. Islam mengajarkan toleransi dan pengertian dalam
menyikapi perbedaan. Allah SWT berfirman:
فَإِن كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن
تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا
"Jika kamu
membenci mereka (istri-istrimu), maka boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal
Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS.
An-Nisa: 19)
Kesabaran
dan prasangka baik sangat dibutuhkan untuk menjadikan perbedaan sebagai
kekuatan, bukan sumber konflik.
4. Bekerja Sama dalam Ibadah
Pasangan
yang bersama-sama mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, saling menasihati dalam
kebaikan dan kesabaran, akan memiliki ikatan spiritual yang kuat. Rasulullah
SAW bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ
اللَّيْلِ، فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَصَلَّتْ،
"Semoga
Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu salat, kemudian
membangunkan istrinya..." (HR. Abu Dawud)
Rumah
tangga yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah akan selalu mencari cara
mendekatkan diri kepada-Nya bersama-sama.
5. Sabar dalam Ujian, Syukur dalam
Nikmat
Ujian
adalah bagian dari kehidupan, termasuk dalam rumah tangga. Ekonomi, perbedaan
pendapat, hingga persoalan anak bisa menjadi cobaan. Kunci dalam menghadapi
semua itu adalah kesabaran dan kesyukuran. Sabar saat sulit, syukur saat
lapang. Inilah rahasia ketangguhan cinta sejati.
6. Menumbuhkan Romantisme yang Halal
Cinta
itu harus dirawat. Ungkapan cinta, hadiah kecil, perhatian harian, hingga waktu
khusus berdua adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat
membahagiakan pasangan. Islam tidak mengharamkan romantisme, bahkan
menganjurkannya dalam koridor yang halal.
Membangun
rumah tangga bukan semata-mata tentang hidup bersama, tetapi tentang menyatukan
hati dalam naungan cinta dan ridha Allah. Dengan seni membangun rumah tangga
berdasarkan cinta—yang penuh niat baik, komunikasi, pengertian, dan
ibadah—keluarga muslim akan menjadi surga di dunia dan jembatan menuju surga yang
hakiki.
“Rumah
tangga yang dibangun dengan cinta karena Allah akan melahirkan generasi yang
kuat, berakhlak, dan menjadi cahaya bagi umat.”
0 comments:
Posting Komentar