Kamis, 31 Juli 2025

Seni Membangun Rumah Tangga dengan Cinta

Abdul Haris, S.H || Kepala KUA Sape/Penghulu


Rumah tangga dalam Islam bukan sekadar ikatan lahiriah antara dua insan, melainkan sebuah ibadah, misi suci, dan sarana untuk meraih ketenangan (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ آيَاتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًۭا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةًۭ وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَـٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang."
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa cinta adalah fondasi penting dalam membangun keluarga yang harmonis. Namun, cinta dalam rumah tangga bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya. Ia harus dipelihara, dihidupkan, dan diperjuangkan dengan seni dan kebijaksanaan.

 

1. Niat Lillah dan Tujuan yang Mulia

Segala sesuatu yang diniatkan karena Allah akan diberkahi. Maka membangun rumah tangga dengan niat untuk beribadah, menyempurnakan separuh agama, serta mendidik generasi shalih menjadi landasan kokoh dalam menciptakan keluarga yang diridhai.

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي

"Barang siapa menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya." (HR. Al-Baihaqi)

 

2. Komunikasi Penuh Cinta

Komunikasi yang sehat adalah jembatan penghubung hati. Rasulullah SAW memberi teladan bagaimana berbicara lembut dan romantis kepada istri-istrinya. Beliau memanggil ‘Aisyah dengan sebutan manis seperti “Humaira” (yang kemerah-merahan pipinya). Kata-kata cinta, pujian, dan penghargaan yang tulus dapat menjadi obat dari berbagai masalah dalam rumah tangga.

 

3. Saling Memahami dan Menghargai Perbedaan

Tidak ada pasangan yang sempurna. Islam mengajarkan toleransi dan pengertian dalam menyikapi perbedaan. Allah SWT berfirman:

فَإِن كَرِ‌هْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَ‌هُوا۟ شَيْـًۭٔا وَيَجْعَلَ ٱللَّهُ فِيهِ خَيْرًۭا كَثِيرًۭا

"Jika kamu membenci mereka (istri-istrimu), maka boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS. An-Nisa: 19)

Kesabaran dan prasangka baik sangat dibutuhkan untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sumber konflik.

 

4. Bekerja Sama dalam Ibadah

Pasangan yang bersama-sama mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, akan memiliki ikatan spiritual yang kuat. Rasulullah SAW bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَصَلَّتْ،

"Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam lalu salat, kemudian membangunkan istrinya..." (HR. Abu Dawud)

Rumah tangga yang dibangun atas dasar cinta kepada Allah akan selalu mencari cara mendekatkan diri kepada-Nya bersama-sama.

 

5. Sabar dalam Ujian, Syukur dalam Nikmat

Ujian adalah bagian dari kehidupan, termasuk dalam rumah tangga. Ekonomi, perbedaan pendapat, hingga persoalan anak bisa menjadi cobaan. Kunci dalam menghadapi semua itu adalah kesabaran dan kesyukuran. Sabar saat sulit, syukur saat lapang. Inilah rahasia ketangguhan cinta sejati.

 

6. Menumbuhkan Romantisme yang Halal

Cinta itu harus dirawat. Ungkapan cinta, hadiah kecil, perhatian harian, hingga waktu khusus berdua adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat membahagiakan pasangan. Islam tidak mengharamkan romantisme, bahkan menganjurkannya dalam koridor yang halal.

Membangun rumah tangga bukan semata-mata tentang hidup bersama, tetapi tentang menyatukan hati dalam naungan cinta dan ridha Allah. Dengan seni membangun rumah tangga berdasarkan cinta—yang penuh niat baik, komunikasi, pengertian, dan ibadah—keluarga muslim akan menjadi surga di dunia dan jembatan menuju surga yang hakiki.

“Rumah tangga yang dibangun dengan cinta karena Allah akan melahirkan generasi yang kuat, berakhlak, dan menjadi cahaya bagi umat.”


 

0 comments: